JogjaVoice.com – Laporan terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) D.I. Yogyakarta mencatat inflasi Year on Year (YoY) per Maret 2025 sebesar 0,52 persen. Angka ini tampak stabil, namun apakah benar-benar tak berdampak pada denyut nadi pelaku usaha kecil dan mikro di Jogja? Kami sebenarnya telah melakukan konfirmasi terhadap beberapa pelaku usaha.
Dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) menyentuh angka 106,65, inflasi kali ini dipicu oleh naiknya harga barang dan jasa di beberapa sektor kunci—dari bahan pokok, perlengkapan rumah tangga, hingga jasa kecantikan.
Inflasi Tertinggi di Kota Yogyakarta, Terendah di Gunungkidul
Dari lima kabupaten/kota di DIY, Kota Yogyakarta mencatat inflasi tertinggi: 0,83 persen (YoY)
Sementara itu, Gunungkidul justru mencatat inflasi terendah di angka 0,28 persen.
Apa Saja Pemicu Utama Inflasi Maret 2025?
Berikut sektor pengeluaran yang mengalami kenaikan harga:
- Makanan, Minuman, Tembakau: +1,56%
- Pakaian dan Alas Kaki: +3,07%
- Peralatan Rumah Tangga: +1,90%
- Kesehatan: +2,23%
- Transportasi: +0,85%
- Rekreasi & Budaya: +1,76%
- Pendidikan: +1,36%
- Restoran dan Kuliner: +1,74%
- Perawatan Pribadi & Jasa Lainnya: melonjak 10,74%
Namun, ada juga sektor yang mengalami penurunan harga:
🏠 Perumahan, Air, Listrik, dan Bahan Bakar: -7,03%
📱 Informasi dan Jasa Keuangan: -0,30%
Sumber: BPS Provinsi D.I. Yogyakarta, Maret 2025
Apa Arti Semua Ini untuk UMKM di Jogja?
Di permukaan, inflasi Jogja tampak jinak. Tapi bagi pelaku UMKM, realitanya lebih kompleks. Mari kita bedah.
1. Biaya Produksi Ikut Terdongkrak
UMKM di sektor makanan, kerajinan, dan tekstil jadi yang paling terdampak. Kenaikan harga bahan baku seperti bahan makanan, tembakau, dan pakaian langsung memengaruhi struktur biaya.
“Harga minyak goreng dan tepung naik lagi, kami harus pintar-pintar mengatur porsi jual,” keluh Siti, pelaku usaha roti rumahan di Giwangan.
2. Konsumen Makin Hati-hati Belanja
Kenaikan harga, meski kecil, cukup bikin konsumen menahan dompet. UMKM yang menjual barang non-prioritas bisa melihat penurunan permintaan.
3. Tapi, Ada Peluang Tersembunyi…
Kenaikan tajam di sektor perawatan pribadi (10,74%) menunjukkan tren konsumtif masyarakat pada produk seperti skincare, jasa salon, hingga aromaterapi.
UMKM yang cerdik bisa menangkap peluang ini dengan inovasi produk natural, ramah lingkungan, atau layanan personal.
Strategi Bertahan & Tumbuh di Tengah Inflasi
UMKM bukan hanya bertahan. Dengan strategi yang tepat, justru bisa berkembang lebih cepat. Berikut beberapa langkah konkret:
Efisiensi Operasional
Kurangi pemborosan di sisi produksi dan distribusi.
Diversifikasi Produk
Luncurkan varian baru, atau ubah kemasan agar tetap menarik di mata konsumen yang menahan belanja.
Upgrade Layanan
Loyalitas pelanggan bisa menjadi penyelamat saat daya beli turun.
Go Digital
Gunakan platform online untuk penjualan, pemasaran, hingga layanan pelanggan. Modalnya kecil, hasilnya bisa besar.
Kesimpulan: Inflasi Rendah ≠ Tanpa Dampak
Meski hanya 0,52 persen, inflasi Maret 2025 tetap menggeser dinamika pelaku usaha di Jogja. Terutama bagi sektor-sektor yang sensitif terhadap harga bahan baku dan preferensi konsumen.
Namun seperti biasa, UMKM di Jogja tak kehabisan akal. Justru dalam situasi menantang seperti inilah, kreativitas, adaptasi, dan inovasi bisa menjadi pembeda antara yang hanya bertahan—dan yang berkembang.
Data sumber: BPS Provinsi D.I. Yogyakarta (rilis Maret 2025)
Follow @jogjavoice di instagram dan ikuti Media Lokal Jogja