Tidak banyak tempat di Indonesia yang dalam sepuluh menit perjalanan kaki bisa menyuguhkan panorama delapan gunung sekaligus, aroma kopi robusta lokal yang baru diseduh, dan kisah kahyangan yang mengakar dalam ingatan kolektif masyarakatnya. Gunung Kendil, Nglambur, Kulon Progo, adalah salah satunya.
Langkah pertama terasa biasa saja—jalan setapak yang membelah rimbun pepohonan, tanah yang sedikit lembap di bawah telapak kaki, dan kicauan burung yang bersahutan dari balik dedaunan. Namun kurang dari sepuluh menit kemudian, semua itu berubah. Tiba-tiba, langit terbuka. Hamparan perbukitan hijau menggulung sejauh mata memandang, dan di cakrawala yang jernih, delapan siluet gunung berdiri tegak seperti pengawal raksasa yang mengitari bumi Jawa.
Inilah puncak Gunung Kendil, sebuah bukit berketinggian 1.019 meter di atas permukaan laut yang bersemayam tenang di Dusun Nglambur, Sidoharjo, Samigaluh, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Namanya mungkin belum setenar Gunung Merapi atau Gunung Merbabu yang justru tampak dari sini, tetapi ia menyimpan pesona yang berbeda—sebuah keheningan yang penuh cerita, keindahan yang tidak menuntut pengorbanan berlebih, dan denyut kehidupan desa yang terus berdetak di lerengnya.
Dari puncak Gunung Kendil, panorama yang tersaji bukan sekadar pemandangan biasa. Pada hari yang cerah, kedelapan gunung terlihat dengan jelas: Gunung Sumbing dan Sindoro yang berdiri berdampingan bagaikan sepasang senopati dari barat, lalu Gunung Kembang, Merapi, Merbabu, Slamet, Andong, hingga Telomoyo yang melengkapi deretan cakrawala menjadi sebuah panorama sirkular yang megah.
Ketika matahari baru saja mengangkat selimut kabutnya di pagi hari, pemandangan itu semakin menakjubkan. Siluet Candi Borobudur—salah satu keajaiban dunia yang berdiri di Magelang—tampak samar-samar di kejauhan, seperti bayang-bayang peradaban yang menatap balik para pendaki dari bawah. Momen ini, menurut warga sekitar, hanya bisa dinikmati saat cuaca benar-benar cerah dan langit bebas dari polusi.
Untuk mencapai puncaknya, pengunjung hanya perlu berjalan kaki sekitar 10 menit. Harga tiket masuk adalah Rp5.000 per orang, sedangkan tiket berkemah dikenakan biaya Rp15.000 per orang. Pengelolaan wisata Gunung Kendil dilakukan oleh kolaborasi yang berawal dari Dewi Wisata Menoreh, BUMDes, dan Karang Taruna sejak tahun 2017 dan ditambah kolaborasi dengan Yatim mandiri melalui Wisata Kampung Mandiri Sidoharjo. Selain itu, terdapat beberapa produk lokal : Kripik Gothe Lur dengan 3 varian rasa (original, balado, dan gado-gado) sudah sertifikasi halal, Kopi Yo Tumbas arabika dan robusta, dan Kopi Mengger yang menyajikan arabika dan robusta yang telah dirintis sejak tahun 2019. (Sumber : Pengelola Wisata Gunung Kendil 2026).
Di balik keindahan alamnya, Gunung Kendil menyimpan lapisan makna yang jauh lebih dalam. Nama “Kendil” bukan sekadar sebutan—ia diambil dari bentuk bukit yang menyerupai kendil, sebuah gerabah tradisional Jawa yang biasa digunakan untuk menyimpan air atau bahan makanan. Bentuknya yang membulat di bawah dan mengecil di atas menjadi ciri khas yang langsung dikenali oleh warga setempat.
Namun dimensi budayanya tidak berhenti di sana. Dalam tradisi lisan masyarakat setempat yang berakar pada khazanah pewayangan Jawa, kawasan Gunung Kendil diyakini sebagai kahyangan Patih Betoro Narodo—tokoh dalam dunia pewayangan yang dikenal sebagai utusan para dewa. Tak jauh dari sana, Gunung Suroloyo yang masih satu kawasan dipercaya sebagai tempat bersemayam Betoro Guru, sosok tertinggi dalam hierarki dewa-dewi dalam kepercayaan Jawa kuno.
Untuk mengabadikan kepercayaan yang telah hidup turun-temurun itu, kini di puncak Gunung Kendil berdiri sebuah Patung Betoro Guru yang menjadi penanda sekaligus simbol. Kehadirannya menjadikan Gunung Kendil bukan sekadar destinasi wisata alam biasa — ia juga menjadi ruang spiritual. Tidak mengherankan jika di antara para pendaki dan wisatawan yang datang, kerap terselip para peziarah yang hadir untuk berdoa, bermeditasi, atau sekadar mencari ketenangan di antara hamparan angin pegunungan.
“Di sini, panorama dan spiritualitas tidak saling bersaing. Keduanya berjalan berdampingan, saling melengkapi, seperti langit dan bumi yang bertemu di cakrawala.”
Pada 2017, pengelolaan Gunung Kendil secara resmi diserahkan kepada Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Nglambur. Keputusan ini bukan sekadar persoalan administrasi—ia adalah titik balik yang membuka lembaran baru bagi ekonomi desa. Sejak saat itu, roda kehidupan warga Nglambur mulai berputar lebih cepat, didorong oleh arus wisatawan yang perlahan namun pasti mulai mengenal Gunung Kendil.
Dua tahun berselang, dari lereng-lereng Kendil lahir sebuah produk yang kini menjadi kebanggaan desa: Kopi Mengger. Kopi robusta lokal ini bukan sekadar komoditas pertanian biasa. Ia ditanam dengan sistem tumpang sari yang menyandingkan tanaman kopi dengan pisang, berbagai jenis rempah, dan pohon mahoni—sebuah pola tanam tradisional yang selain menjaga keseimbangan ekosistem, juga memberikan sumber penghasilan berlapis bagi para petani.
Setiap biji kopi yang dipetik dari lereng Gunung Kendil membawa serta kisah panjang—tentang tangan-tangan petani yang merawatnya dengan sabar, tentang tanah vulkanik yang subur dan kaya mineral, tentang udara dingin pegunungan yang memberi karakter pada cita rasanya. Ketika Kopi Mengger diseduh dan dituangkan ke dalam cangkir, ia bukan sekadar minuman. Ia adalah cerita kemandirian desa yang bisa dinikmati dalam setiap tegukan.
Apa yang membuat Gunung Kendil benar-benar berbeda dari banyak destinasi wisata lainnya bukan hanya panoramanya—melainkan semangat yang menghidupkannya. Di balik setiap anak tangga pendakian yang tertata rapi, di balik sistem pengelolaan yang berjalan teratur, ada satu kekuatan yang kerap luput dari perhatian: gotong royong.
Warga Nglambur juga mengelola dua mata air besar yang mengalir dari kawasan Gunung Kendil secara bersama-sama. Tidak ada kontraktor luar, tidak ada perusahaan pengelola swasta yang ditunjuk—semuanya dikerjakan oleh tangan warga sendiri, dari proses penampungan hingga sistem distribusi ke rumah-rumah penduduk. Air itu bukan hanya soal kebutuhan fisik. Ia adalah simbol kepemilikan bersama atas alam yang mereka jaga.
Hal yang sama berlaku untuk infrastruktur wisata. Jalur pendakian, fasilitas berkemah, hingga kebersihan kawasan—semuanya merupakan hasil kerja kolektif masyarakat Nglambur. Dalam bahasa yang paling sederhana, Gunung Kendil adalah milik bersama, dirawat bersama, dan hasilnya pun dinikmati bersama.
Gunung Kendil menawarkan sesuatu yang semakin langka di era pariwisata modern yang serba masif dan industrialis: keotentikan. Tidak ada panggung hiburan yang direkayasa, tidak ada dekorasi artifisial yang dipaksakan untuk mengejar estetika media sosial. Yang ada hanyalah alam yang apa adanya, masyarakat yang ramah, dan produk lokal yang lahir dari keringat nyata.
Dengan tiket masuk yang sangat terjangkau—Rp5.000 untuk trekking dan Rp15.000 untuk berkemah—Gunung Kendil membuktikan bahwa pengalaman wisata berkualitas tidak harus mahal. Filosofi ini sejalan dengan prinsip pariwisata berbasis komunitas yang selama ini didengungkan oleh para pegiat wisata berkelanjutan: bahwa destinasi yang baik adalah destinasi yang tumbuh dari dalam, bukan yang dipaksakan dari luar.
“Perlu dicatat pula bahwa informasi harga tiket dan jam operasional sebaiknya dikonfirmasi langsung kepada pengelola BUMDes Nglambur sebelum berkunjung, mengingat kebijakan wisata dapat berubah sewaktu-waktu. Untuk akurasi informasi terkini, calon pengunjung disarankan menghubungi pemerintah desa setempat atau kanal resmi pengelola wisata.”
Pada akhirnya, Gunung Kendil bukan sekadar titik di peta wisata Kulon Progo. Ia adalah potret dari apa yang bisa terwujud ketika alam, budaya, dan masyarakat bekerja dalam harmoni—ketika sebuah desa tidak hanya memandang kekayaan alam sebagai warisan untuk dibanggakan, tetapi juga sebagai tanggung jawab untuk dijaga dan dikelola dengan bijak. Di sini, delapan puncak gunung menjadi saksi bisu bahwa keindahan yang sesungguhnya bukan hanya tentang apa yang terlihat di cakrawala, tetapi tentang siapa yang memilih untuk merawatnya.
- Catatan Redaksi: Artikel ini disusun berdasarkan informasi yang tersedia dari pengelola wisata dan sumber-sumber terpercaya. Redaksi mendorong calon pengunjung untuk selalu mengonfirmasi informasi terkini sebelum berkunjung. Liputan ini tidak merupakan bentuk promosi berbayar.
Oleh Tim Redaksi KKN Nglambur UPY | Nglambur, Sidoharjo, Samigaluh, Kulon Progo, DIY