Ramai di Threads! Utas Eks Pekerja Radio di Jogja: Gaji Ditunggak, Tapi Perusahaan Sibuk ‘Open Hiring’

Gambar: Screenshot Threads arnill_16

YOGYAKARTA – Gelombang keresahan kembali menghantam industri kreatif dan media di Yogyakarta. Di balik citra Yogyakarta sebagai kota pelajar yang romantis dan kreatif, tersimpan cerita kelam mengenai kesejahteraan pekerjanya. Kali ini, sebuah utas (thread) di platform media sosial Threads menjadi pemantik diskusi panas setelah mengungkap dugaan praktik buruk sebuah manajemen stasiun radio di kota ini.

Isu ini bermula dari unggahan akun @arnill_16 yang meluapkan kekecewaannya secara terbuka. Dalam utas yang kini ramai, ia menyoroti sebuah ironi besar yang terjadi di tempat ia pernah bekerja. Ia menyebutkan adanya sebuah stasiun radio yang nekat membuka lowongan kerja baru (open hiring) untuk merekrut tim anyar, padahal kewajiban finansial—termasuk gaji—kepada karyawan lama belum diselesaikan.

“ADA LOH RADIO DI JOGJA YANG GAK NGEGAJI KARYAWANNYA!! Hutang Gaji gak tuh!!” tulis akun tersebut dengan nada geram. Kalimat selanjutnya semakin mempertegas ironi yang terjadi, “Tapi, si radio ini malah berani buat hiring tim baru, KOCAK!!! Minimal lunasin dulu boss gaji-gaji kita.”

Solidaritas Korban: Bukan Sekadar Uang

Bak gayung bersambut, curhatan tersebut memancing respons dari pihak lain yang merasa senasib. Akun @radheluth, yang mengaku sebagai mantan bagian dari tim kreatif part-time (paruh waktu) di radio yang sama, turut angkat bicara. Kesaksiannya menambah validasi bahwa masalah ini bukan sekadar kasus kasuistik satu orang, melainkan indikasi adanya masalah sistemik dalam manajemen keuangan radio tersebut.

Dalam komentarnya yang kemudian disematkan (pinned) oleh pengunggah pertama, @radheluth mengungkapkan kesedihannya. Ia menekankan bahwa tim sudah berusaha bekerja seprofesional mungkin, namun balasan yang diterima justru pengabaian. Bahkan setelah kontrak kerja berakhir, hak-hak mereka tak kunjung dicairkan.

“Miris.. apalagi di saat kewajiban ke tim lama belum diberesin mereka ‘open hiring’ lagi,” tulisnya. Ia menambahkan poin penting bahwa tuntutan mereka bukan semata-mata soal nominal uang, melainkan soal etika profesional. “Ini bukan cuma soal gaji, walaupun itu jelas penting. Lebih ke soal profesionalitas dan tanggung jawab buat nuntasin hak orang yang udah kerja dan kontribusi,” tegasnya.

Sisi Gelap: Dugaan Intimidasi dan Penguntitan

Namun, bagian yang paling menyita perhatian publik dan mengubah isu ini dari sekadar “curhat gaji” menjadi isu keamanan adalah pengakuan mengenai intimidasi. Banyak warganet yang mendesak agar nama radio tersebut dibuka secara gamblang (spill) agar tidak ada korban lain. Akan tetapi, @arnill_16 memilih untuk menahan diri dengan alasan keselamatan.

Ia membeberkan pengalaman traumatis saat mencoba menuntut haknya di masa lalu. Bukannya mendapatkan solusi, ia justru mendapatkan tekanan. “Ytt (Yang Tahu Tahu) Aja ya kak, soalnya dulu waktu saya berani nentang mereka malah saya yang ditekan,” akunya.

Lebih mengerikan lagi, ia mengaku privasinya dilanggar hingga diikuti sampai ke kediaman pribadinya. “Sampai mereka berani mengikuti saya sampai ke tempat tinggal saya. Puji Tuhan saya masih dilindungi,” tulisnya menutup respons tersebut. Pengakuan ini sontak membuat netizen semakin bersimpati.

Teka-Teki Identitas Radio: Netizen Mulai Berspekulasi

Absennya nama terang dalam utas tersebut membuat kolom komentar menjadi ajang detektif dadakan bagi warganet Yogyakarta. Berdasarkan petunjuk-petunjuk (clue) yang tersirat—lokasi di Jogja, adanya rekrutmen baru-baru ini, dan rekam jejak manajemen—spekulasi mulai mengerucut.

Beberapa akun secara berani menyebut inisial “SWG” atau merujuk pada frekuensi “101.7 FM”, sebuah stasiun radio yang cukup legendaris di Yogyakarta. Meski demikian, karena belum ada konfirmasi resmi atau bukti tertulis yang dibuka oleh pelapor, identitas pasti radio tersebut masih menjadi “dugaan kuat” di kalangan publik.

Kasus ini menjadi peringatan keras bagi para pencari kerja di industri media Yogyakarta untuk lebih waspada, sekaligus menjadi tamparan bagi perusahaan media agar tidak mengabaikan hak-hak pekerjanya di tengah gempuran citra “kreatif” yang mereka bangun. Hingga berita ini diturunkan, belum ada klarifikasi resmi dari pihak manajemen radio yang diduga menjadi subjek pembicaraan tersebut.

Total
0
Shares
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts