Dalam Filosofi Pendidikan, Mahasiswa PPG Bahasa Indonesia USD Kunjungi Sekolah Eksperimental Mangunan

Sekolah Eksperimental Mangunan, Cupuwatu, Kalasan, Sleman Dokumentasi Pribadi

Oleh: Ahmad Zikri

Mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (PPG) Bahasa Indonesia Universitas Sanata Dharma (USD) melaksanakan kuliah lapangan di Sekolah Eksperimental Mangunan, Cupuwatu, Kalasan, Sleman, Yogyakarta pada Jumat, 24 April 2026. Kegiatan tersebut merupakan upaya untuk memperdalam pemahaman tentang filosofi pendidikan secara konkret melalui pengalaman langsung di lapangan. Hal ini sejalan dengan pandangan bahwa pendidikan tidak hanya bersifat teoretis, melainkan juga menekankan pemahaman secara praksis.

Kunjungan ini dilaksanakan di bawah bimbingan Prof. Dr. C.B. Mulyatno, Pr dalam mata kuliah Filosofi Pendidikan dan Pendidikan Nilai. Dalam pengantarnya, Prof. Mulyatno mengatakan bahwa filosofi pendidikan harus dipahami secara holistik kontekstual. Dikatakan holistik kontekstual karena pengembangan seluruh potensi siswa dilakukan dengan konteks kehidupan dan pengalaman nyata. Selanjutnya, Prof. Mulyatno juga menegaskan bahwa pendidikan holistik perlu ditopang oleh tiga pilar penting yang mendukung tercapainya tujuan pendidikan secara utuh.

“Pedidikan holistik perlu ditopang oleh tiga pilar penting, yaitu kemampuan guru secara pedagogi dan didaktik, proses belajar, dan lingkungan/suasana,” ungkapnya saat membuka kegiatan.

Pada kesempatan ini, mahasiswa diajak untuk mengamati sekolah yang dikenal memiliki lingkungan belajar yang unik dibandingkan dengan sekolah pada umumnya. Di Sekolah Eksperimental Mangunan, siswa diberi ruang yang luas untuk mengeksplorasi minat, bakat, dan gaya belajarnya. Hal ini diterapkan sesuai dengan konsep belajar merdeka Y.B. Mangunwijaya (Romo Mangun) selaku pencetus sekolah tersebut. Sejak awal, sekolah yang mencakup jenjang TK, SD, dan SMP ini menerapkan kurikulum yang menekankan kemerdekaan anak untuk belajar dan pengembangan potensinya.

Salah seorang siswa, Aga, mengungkapkan pengalamannya selama belajar di sekolah tersebut. Ia mengaku senang karena mendapatkan kebebasan dalam belajar. Uniknya, mereka juga diberi kebebasan dalam berbapakaian dan tidak terikat pada seragam formal seperti di sekolah umum. Hal ini membuatnya merasa lebih percaya diri dan nyaman mengeksplorasikan minat dan bakatnya.

“Menurut saya, bersekolah di sini sangat nyaman dan bebas sekali. Teman-teman menggunakan pakaian yang beragam. Itulah keistimewaan kami, tidak menggunakan seragam asalkan tetap sopan,” ujarnya ketika diwawancarai.

Mahasiswa yang hadir tampak antusias mengamati secara langsung proses pembelajaran. Selama observasi, para siswa terlihat sedang belajar di kelas yang terbuka maupun di lapangan terbuka, sementara siswa lainnya berlatih alat musik tradisional dan gotong royong membersihkan ruangan kelas. Selain itu, mahasiswa juga melakukan dialog langsung dengan para guru dan siswa untuk memahami filosofi pendidikan secara komprehensif yang diterapkan di Sekolah Eksperimental Mangunan.

Salah seorang mahasiswa, Syafrida Reza Aula, memberikan pengakuan bahwa kunjungan tersebut di luar ekspektasinya. Ia menyoroti integrasi kurikulum yang bersifat fleksibel, tidak adanya penekanan sistem ujian, dan proses perkembangan setiap siswa.

“Mereka memiliki kemampuan komunikasi yang sangat baik dan mampu menyederhanakan konsep rumit menjadi mudah dipahami. Pengalaman ini sangat berkesan bagi saya dan saya akan kembali berkunjung jika ada kesempatan lain,” tutup Syafrida saat diminta pendapatnya.

Total
0
Shares
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts