Jogjavoice.com – Kota Jogja kembali meneguhkan posisinya sebagai magnet industri kreatif dan kuliner di tanah air. Untuk kedua kalinya, gelaran akbar yang menyatukan tiga sektor strategis sekaligus Jogja Food & Beverage Expo, Jogja Printing Expo, dan Jogja Pack & Process Expo 2026 resmi menyapa publik di Jogja Expo Center (JEC) mulai 8 hingga 11 April 2026.
Tak tanggung-tanggung, ajang ini diikuti oleh 110 peserta. Menariknya, 30 di antaranya merupakan pelaku UMKM yang siap naik kelas dengan bersanding bersama pemain industri skala besar.
CEO Krista Exhibitions Group, Daud D Salim menjelaskan kolaborasi tiga pameran ini bukan sekadar ajang pamer mesin atau produk biasa. Melainkan upaya membangun ekosistem manufaktur yang terintegrasi dari hulu ke hilir.
“Kami tidak hanya menghadirkan pameran, tetapi membangun ekosistem yang memungkinkan para pelaku industri untuk berkolaborasi, berinovasi, dan bertumbuh,” katanya, Jumat (27/3).
Menurutnya, sinergi antara sektor makanan-minuman (F&B), pengemasan (packaging), dan percetakan (printing) adalah kunci masa depan manufaktur Indonesia. Di JEC, pengunjung bisa melihat langsung bagaimana bahan baku diolah dengan teknologi food processing terkini, dibungkus dengan kemasan ramah lingkungan, hingga diberi sentuhan visual melalui teknik digital printing resolusi tinggi untuk memperkuat branding. Sisi edukasi dan kompetisi juga menjadi magnet tersendiri.
Di panggung utama, aroma masakan menggugah selera tersaji lewat aksi para koki ternama. Sebut saja Chef Achen dari Rose Brand, Chef Lucky P. Katili dari PT Ikan Dorang dengan menu andalan Ayam Cabe Garam, hingga Chef Edli Haryanto yang membagikan resep kekinian mulai dari Mie Mala Chili Oil hingga Sup Asparagus.
Bagi pencinta kopi dan teh, pameran ini jadi surga riset. Ada kompetisi roasting J-ROC yang menguji ketajaman indra penciuman barista, hingga Tea Class yang digelar Dewan Teh Indonesia. Di kelas ini, peserta diajak membedah sains di balik perisa teh hingga meracik milk tea sehat tanpa gula.
“Program-program ini dirancang untuk memicu efek domino bagi ekonomi daerah. Kami ingin lahir ide-ide baru yang mampu meningkatkan nilai jual produk UMKM secara signifikan,” tambah Daud. (fis).