JogjaVoice.com- Asosiasi Program Studi Ekonomi Islam Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (APSEI PTMA) menyelenggarakan Rapat Kerja Nasional di Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), Rabu, 5 Agustus 2026. Mengusung slogan “Unggul dan Global”, Rakernas dilaksanakan secara hybrid, yakni secara luring di kampus UMJ dan secara daring melalui platform Microsoft Teams. Skema ini memungkinkan pengurus dan perwakilan program studi dari berbagai daerah tetap berpartisipasi secara aktif dalam seluruh rangkaian kegiatan.
Pertemuan tersebut menjadi momentum konsolidasi organisasi untuk memperkuat mutu kelembagaan, meningkatkan kompetensi dosen dan mahasiswa, serta memperluas kolaborasi antarperguruan tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah.

Rakernas membahas empat agenda utama, yaitu penguatan pemahaman mengenai akreditasi Lembaga Akreditasi Mandiri Ekonomi, Manajemen, Bisnis, dan Akuntansi (LAMEMBA), evaluasi dan pengembangan program kerja APSEI PTMA, ketentuan penerimaan anggota baru, serta pembahasan mekanisme pemilihan Ketua Umum APSEI PTMA periode 2026–2030.
Dalam sesi akreditasi, para peserta memperoleh penguatan mengenai kriteria penilaian program studi sebagai bagian dari upaya mencapai peringkat Unggul. Pembahasan tidak hanya berfokus pada pemenuhan dokumen, tetapi juga pada penguatan tata kelola, mutu pembelajaran, kualitas sumber daya manusia, produktivitas penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, serta peningkatan luaran dan capaian tridarma perguruan tinggi.
Ketua Umum APSEI PTMA, Dr. Dimas Bagus Wiranatakusuma, S.E., M.Ec., menegaskan bahwa APSEI PTMA perlu menjadi ruang kolaborasi yang memberikan manfaat nyata bagi seluruh program studi anggotanya.
“APSEI PTMA bukan sekadar wadah silaturahmi antarkampus, tetapi harus menjadi ekosistem kolaborasi yang mampu mendorong program studi Ekonomi Islam semakin unggul, produktif, dan dikenal secara global. Pelaksanaan Rakernas secara hybrid juga menunjukkan komitmen APSEI PTMA untuk membangun organisasi yang inklusif, adaptif, dan mampu menjangkau seluruh anggota di berbagai wilayah,” ujar Dimas.

Perkuat pengembangan dosen dan kelembagaan
Rakernas menegaskan bahwa program kerja APSEI PTMA diarahkan pada pengembangan kapasitas dosen, mahasiswa, dan kelembagaan program studi. Divisi penelitian, pendidikan, pengabdian kepada masyarakat, serta Al-Islam dan Kemuhammadiyahan menjadi penggerak utama program. Sementara itu, bidang hubungan masyarakat dan kerja sama berperan dalam mendukung publikasi, memperluas akses kemitraan, dan memperkuat jaringan kelembagaan.
Program pengembangan dosen mencakup penelitian dan publikasi bersama, pengabdian kolaboratif, penulisan buku ajar Ekonomi Islam, pertukaran pengajaran, serta sertifikasi kompetensi. APSEI PTMA juga merencanakan bimbingan teknis penyusunan proposal hibah penelitian dan pengabdian, pelatihan publikasi pada jurnal terakreditasi, sosialisasi akreditasi LAMEMBA, dan pengembangan kelas internasional.
Mobilitas dosen menjadi salah satu program prioritas. Setiap kampus anggota didorong menyelenggarakan sedikitnya satu kegiatan staff mobility, baik dengan sesama anggota APSEI PTMA maupun dengan perguruan tinggi luar negeri. Program tersebut diharapkan dapat menghasilkan pertukaran pengalaman akademik, pengajaran bersama, penelitian kolaboratif, publikasi bersama, dan penguatan jejaring internasional.
APSEI PTMA juga akan melanjutkan forum diskusi, kajian Al-Islam dan Kemuhammadiyahan, serta diseminasi penelitian secara berkala. Kegiatan dirancang dengan melibatkan pembicara dari luar negeri, pengurus APSEI PTMA, dan moderator dari perguruan tinggi tuan rumah.
Membuka ruang pengembangan mahasiswa
Pada aspek pengembangan mahasiswa, APSEI PTMA menyiapkan program pertukaran mahasiswa, sertifikasi kompetensi, kompetisi nasional dan internasional, serta diseminasi hasil penelitian. Organisasi juga mendorong penguatan forum silaturahmi program studi Ekonomi Islam untuk mempererat komunikasi antarkaprodi sekaligus membuka peluang pelaksanaan program bersama.
Salah satu agenda yang akan dikembangkan adalah APSEI Call for Papers on Islamic Economics and Finance yang direncanakan berlangsung satu kali dalam satu tahun. Selain itu, kegiatan Student Research Exposed akan menjadi ruang bagi mahasiswa untuk mempresentasikan hasil penelitian dan memperoleh masukan dari akademisi lintas perguruan tinggi.
APSEI PTMA turut merencanakan konferensi internasional bertajuk APSEI Conference in Islamic Economics and Sustainability. Konferensi tersebut akan dipadukan dengan pelatihan metodologi penelitian yang melibatkan Dewan Pakar APSEI PTMA.
Penguatan website dan media sosial juga menjadi bagian penting dari agenda organisasi. Platform digital APSEI PTMA akan dimanfaatkan untuk menyebarluaskan kegiatan anggota, menampilkan profil dosen dan Dewan Pakar, serta menyediakan basis data jurnal Ekonomi Islam nasional dan internasional yang dapat diakses oleh seluruh anggota.
Menuju organisasi berbasis data dan kolaborasi global
Dalam jangka panjang, APSEI PTMA merencanakan studi banding ke luar negeri, khususnya Singapura, benchmarking kurikulum, serta inisiasi dan penguatan kerja sama internasional. Organisasi juga mendorong adanya dukungan anggaran tahunan dari program studi anggota untuk menunjang operasional dan pengembangan kegiatan APSEI PTMA.
Untuk memperkuat tata kelola organisasi, APSEI PTMA akan mengembangkan basis data, website, dan sistem informasi yang terintegrasi. Setiap kampus anggota akan dipetakan berdasarkan potensi dosen, jurnal, program unggulan, bidang kepakaran, dan peluang kolaborasinya.
Menurut Dimas, penguatan basis data menjadi penting agar potensi besar yang dimiliki kampus-kampus anggota dapat dikembangkan melalui program bersama.
“Kita memiliki banyak dosen, peneliti, jurnal, dan program studi dengan keunggulan masing-masing. Potensi tersebut perlu dipetakan dan dihubungkan agar melahirkan kolaborasi penelitian, publikasi, pertukaran dosen dan mahasiswa, serta kerja sama internasional yang lebih terarah dan berkelanjutan,” jelasnya.
Selama periode kepengurusan 2022–2026, APSEI PTMA telah menyelenggarakan sekitar 40 kegiatan. Kegiatan tersebut meliputi seminar nasional, kuliah tamu internasional, pelatihan penyusunan proposal hibah penelitian, workshop internasionalisasi, kompetisi riset nasional, kajian rutin Ekonomi Syariah, pengabdian internasional, benchmarking, kunjungan kampus ke Malaysia, serta pengajaran internasional bersama.
Kukuhkan lima kampus sebagai anggota baru
Pada Rakernas 2026, APSEI PTMA juga mengukuhkan lima kampus baru sebagai anggota. Penambahan anggota tersebut diharapkan semakin memperluas jaringan sekaligus menguatkan syiar APSEI PTMA di berbagai perguruan tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah.
APSEI PTMA membuka keanggotaan bagi seluruh perguruan tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah yang menyelenggarakan program studi berkaitan dengan Ekonomi Syariah, meskipun program studi tersebut tidak berada di bawah Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Kebijakan ini menunjukkan komitmen APSEI PTMA untuk menjadi organisasi yang inklusif dan mampu mengakomodasi beragam struktur kelembagaan program studi pada masing-masing perguruan tinggi.
“Semakin luas keanggotaan APSEI PTMA, semakin besar pula kesempatan untuk berbagi praktik baik, membangun program bersama, dan memperkuat kontribusi pendidikan Ekonomi Islam bagi persyarikatan, masyarakat, bangsa, dan dunia,” kata Dimas.
Musyawarah menuju kepemimpinan baru
Pada akhir Rakernas, para peserta, baik yang hadir secara langsung maupun melalui Microsoft Teams, menyampaikan pandangan dan bermusyawarah untuk merumuskan rekomendasi mengenai calon nakhoda baru APSEI PTMA periode 2026–2030. Proses tersebut dilaksanakan dengan mengedepankan semangat kebersamaan, keberlanjutan organisasi, dan kemajuan bersama.
Pergantian kepemimpinan diharapkan tidak hanya menjadi proses organisatoris, tetapi juga momentum untuk menjaga kesinambungan program, memperkuat inovasi, serta membawa APSEI PTMA semakin adaptif dalam menghadapi perkembangan pendidikan tinggi dan industri ekonomi syariah.
Melalui Rakernas 2026, APSEI PTMA diharapkan semakin kuat sebagai wadah kolaborasi program studi Ekonomi Islam di lingkungan perguruan tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah. Konsolidasi ini diarahkan untuk melahirkan program yang terukur, berkelanjutan, dan berdampak terhadap mutu pendidikan, produktivitas penelitian, pengabdian kepada masyarakat, pengembangan mahasiswa, serta peningkatan reputasi program studi pada tingkat nasional dan internasional.