BANTUL — Riuh tabuh kendang jathilan dan hentakan dinamis Tari Gedruk memecah kesunyian pesisir selatan Bantul. Di bawah rindangnya kanopi pohon cemara udang, ribuan mata tertuju pada barisan bregada Desa Wisata Patian yang melangkah tegap mengawal gunungan hasil bumi.
Hari itu, Pantai Goa Cemara kembali menggelar ritual tahunan Labuhan 1 Suro. Sebuah perayaan yang bukan sekadar rutinitas budaya, melainkan simbol perlawanan warga terhadap situasi ekonomi yang sedang tidak berpihak.
Tahun ini, ritual mengusung tema “Sengkut Ing Karya Mompyore Goa Cemara”. Tema yang bermakna “semangat bekerja demi kemilaunya Goa Cemara” tersebut seolah menjadi cerminan nyata dari apa yang terjadi di balik layar pelaksanaan acara.
Swadaya di Tengah Impitan Ekonomi
Bukan rahasia lagi jika kondisi ekonomi belakangan ini sedang menghadapi tantangan berat. Namun, bagi warga pesisir Goa Cemara, pasang surutnya kondisi keuangan tidak menjadi alasan untuk melarung tradisi yang sudah mengakar.
Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Pantai Goa Cemara, Bayu Sujana, mengungkapkan rasa haru sekaligus bangganya atas pelaksanaan labuhan tahun ini. Di tengah situasi yang sulit, antusiasme warga untuk urunan dan bergotong royong justru berlipat ganda.
”Walaupun kondisi ekonomi saat ini sedang tidak baik, warga tetap sangat antusias untuk berswadaya. Ditambah dukungan dari Dinas Pariwisata DIY, Alhamdulillah acara bisa berjalan dengan lancar,” ujar Bayu di sela-sela acara.
Kolaborasi apik antara swadaya masyarakat dan fasilitasi dari Dinas Pariwisata DIY inilah yang menjadi bahan bakar utama. Hasilnya, ritual tetap berlangsung khidmat tanpa kehilangan daya pikat wisatanya. Kegiatan ini mendapat sokongan paling dominan dari Dana Keistimewaan DIY 2026.
Akulturasi Seni dan Prosesi Sakral
Sejak pagi, kawasan pantai sudah dipadati pengunjung yang ingin menyaksikan rangkaian acara. Penonton disuguhi perpaduan harmoni budaya yang kaya. Mulai dari lantunan religius pentas Hadroh, eksotisme Tari Gedruk, hingga pementasan Jathilan yang enerjik.
Puncak acara ditandai dengan prosesi larung sesaji. Dipimpin oleh bregada Desa Wisata Patian, gunungan berisi hasil bumi dan doa-doa syukur dilarung ke laut selatan. Prosesi ini menjadi simbol rasa syukur atas rezeki yang telah diterima sekaligus harapan akan keselamatan dan kesejahteraan di tahun yang baru.
Bagi para wisatawan, labuhan ini memberikan pengalaman magis yang autentik. Namun bagi warga lokal, setiap sesaji yang dilarung adalah bukti nyata dari esensi Sengkut Ing Karya—bahwa dalam kondisi seberat apa pun, ruang gerak budaya dan kebersamaan harus tetap menyala.
Semangat ‘Sengkut Ing Karya’: Menantang Paceklik Ekonomi Lewat Larung Sesaji Pantai Goa Cemara