Selamat datang di era Patriarki 2.0. Ini bukan lagi sistem dominasi sosial satu gender atas yang lain secara langsung. Ini adalah sebuah sistem operasi (OS) baru yang berjalan senyap di latar belakang kehidupan digital kita.
Diskursus tentang gender di ruang publik hari ini terasa seperti kaset rusak yang diputar di sebuah ruangan yang sudah berganti perabotan. Di satu sisi, melodi usang tentang “patriarki”—sebuah struktur universal di mana laki-laki adalah penindas absolut dan perempuan adalah korban abadi—terus dilantunkan. Namun, di sisi lain, telinga dan mata kita menangkap riuh rendah realitas yang jauh lebih bising dan paradoksal. Kita melihat perempuan di banyak sektor meraih validasi sosial dan perlindungan institusional yang solid, sementara di sudut lain, laki-laki justru semakin banyak yang tersingkir, terisolasi dalam epidemi kesepian, atau dicap gagal karena tak mampu memanjat dinding ekspektasi yang kini dibangun dari dua arah yang berlawanan.
Ironisnya, alih-alih memperbarui analisis kita sesuai zaman, banyak dari kita yang terjebak dalam kerangka ahistoris yang terasa nyaman namun buta. Kita seolah sengaja menutup mata pada pergeseran kekuasaan yang nyata. Kita gagal melihat bahwa “musuh” lama mungkin tidak lenyap, melainkan telah diakuisisi, di-upgrade, dan diintegrasikan ke dalam entitas yang jauh lebih besar. Sutradara yang kini mengarahkan panggung drama gender bukanlah lagi struktur sosial murni yang digerakkan oleh niat jahat sekelompok orang, melainkan kekuatan yang lebih amoral, efisien, dan buta warna: pasar.
Selamat datang di era Patriarki 2.0. Ini bukan lagi sistem dominasi sosial satu gender atas yang lain secara langsung. Ini adalah sebuah sistem operasi (OS) baru yang berjalan senyap di latar belakang kehidupan digital kita. Sebuah OS yang dirancang oleh kapitalisme mutakhir, yang dengan kecerdasan buatan dan analisis data, mampu mengeksploitasi kerentanan, hasrat, dan kecemasan kedua gender untuk satu tujuan absolut: keuntungan. Ia tidak peduli siapa Anda, laki-laki atau perempuan; ia hanya peduli pada potensi Anda sebagai sumber daya yang bisa diekstraksi.

Keruntuhan Narasi Lama dan Simpul Mustahil Maskulinitas
Setiap analisis yang jujur harus mengakui bahwa perjuangan feminisme gelombang kedua dan ketiga telah membuahkan hasil signifikan yang patut dirayakan. Lahirnya undang-undang perlindungan kekerasan, kebijakan afirmatif di dunia korporat, dan meledaknya kesadaran publik telah memberikan modal sosial dan institusional yang nyata bagi perempuan. Di arena digital yang seringkali kejam, simpati kolektif hampir secara otomatis berpihak pada perempuan dalam banyak sengketa, menciptakan jaring pengaman sosial yang sebelumnya tak terbayangkan.
Baca juga: Materialists: Romansa Modern yang Menelanjangi Hati (dan Dompet)
Namun, keberhasilan ini melahirkan sebuah paradoks yang canggung dan jarang dibicarakan. Sementara narasi “perempuan sebagai korban utama” terus menjadi tajuk utama, muncul realitas baru yang menekan bagi laki-laki. Mereka kini terperangkap dalam apa yang bisa disebut “Simpul Mustahil Maskulinitas”, ditarik dari dua arah oleh ekspektasi yang saling bertentangan:
- Ekspektasi Patriarkal Lama: Jadilah penyedia, jadilah pelindung. Kuat secara fisik, tabah secara emosional. Jangan pernah menangis atau menunjukkan kelemahan. Suksesmu diukur dari hartamu.
- Ekspektasi Feminis Modern: Jadilah sensitif, sadar emosi, dan komunikatif. Jadilah mitra yang setara dalam segala hal, buang “privilese”-mu, dan dengarkan.
Kegagalan memenuhi tuntutan pertama akan dicap sebagai “pria gagal”. Kegagalan memenuhi tuntutan kedua akan dicap sebagai “pria toksik”. Kegagalan di kedua sisi berarti alienasi total. Akibatnya, isu-isu kritis seperti tingginya angka bunuh diri pria (data global dari WHO secara konsisten menunjukkan angka bunuh diri pria jauh lebih tinggi daripada wanita), epidemi kesepian massal, dan krisis pendidikan di mana anak laki-laki semakin tertinggal, sering kali terpinggirkan dari diskusi arus utama. Isu-isu ini dianggap tidak relevan karena tidak cocok dengan skrip sederhana “pelaku vs. korban” yang sudah usang.
Kacamata lama ini tak lagi mampu menangkap gambar dengan jelas. Ia seperti kacamata bifokal yang lensanya sudah retak—hanya menyorot satu sudut panggung yang familiar, sementara di sudut lain, sebuah pertunjukan yang sama sekali baru sedang berlangsung dengan megah.
Ekonomi Pengurasan: Laki-laki sebagai Ladang Minyak Baru
Sutradara baru bernama pasar ini telah menemukan ladang minyak yang luar biasa subur: kerentanan psikologis laki-laki. Hasrat, obsesi, dan terutama kesepian di era digital telah menjadi sumber daya alam yang dieksploitasi tanpa henti. Selamat datang di Ekonomi Pengurasan (The Milking Economy), di mana perasaan terdalam laki-laki diubah menjadi data, lalu dimonetisasi hingga tetes terakhir.

Arsitektur brilian dari model bisnis ini bisa kita lihat pada dua fenomena raksasa:
- Industri Game Gacha: Ini bukan sekadar permainan, ini adalah kasino psikologis yang disempurnakan. Mekanismenya menggabungkan dorongan adiktif untuk berjudi (pulling) dan insting purba untuk mengoleksi dengan umpan visual karakter perempuan hiperseksual (waifu) yang dirancang untuk menjadi ideal tanpa cela. Waifu ini menawarkan sesuatu yang langka di dunia nyata: afeksi yang terprogram, kesetiaan absolut, dan validasi tanpa syarat. Industri ini tidak menjual gameplay; ia menjual dopamin instan, fantasi kepemilikan, dan hubungan emosional satu arah yang aman dari kompleksitas dan penolakan dunia nyata.
- Fenomena E-girl dan VTuber: Platform seperti Twitch, YouTube, atau TikTok telah menyempurnakan model bisnis hubungan parasosial. Seperti yang dijelaskan oleh para peneliti media, ini adalah ilusi hubungan tatap muka yang intim dengan seorang figur publik. Para kreator ini tidak hanya menjual konten, tetapi juga ilusi kedekatan—sebuah komoditas paling premium di dunia yang semakin teratomisasi. Dengan donasi (saweran) dan langganan, penonton pria pada dasarnya membeli afeksi yang terukur: $5 untuk sebuah sapaan nama di tengah lautan penonton, $100 untuk pengakuan yang lebih eksklusif. Mereka tidak bodoh; mereka sadar sedang bertransaksi. Mereka membeli validasi dalam lautan anonimitas.
Dalam ekosistem ini, kesepian laki-laki bukan lagi sebuah kondisi eksistensial yang perlu diatasi, melainkan sebuah metrik data yang harus dianalisis dan dimaksimalkan customer lifetime value-nya.

Komodifikasi Diri: Perempuan di Panggung Kandang Emas
Jika laki-laki adalah target pasar, maka perempuan didorong untuk menjadi produknya. Sistem pasar ini menawarkan sebuah “kandang emas” yang sangat memikat: kesempatan bagi perempuan untuk meraih kekuatan ekonomi, validasi sosial, dan pengaruh yang masif dengan cara mengkomodifikasi diri mereka sendiri.
Seorang influencer atau streamer perempuan yang sukses memang memegang kuasa. Ia adalah seorang manajer perhatian (attention manager) yang ulung, mampu mengarahkan modal dan atensi dari ribuan, bahkan jutaan, pengikutnya. Namun, kekuatan ini adalah kekuatan yang bersyarat dan rapuh. Ia duduk di atas takhta yang terbuat dari algoritma yang bisa berubah kapan saja. Ia harus secara konstan “memainkan peran” yang diminta oleh pasar—peran yang sering kali, sengaja atau tidak, dirancang untuk memenuhi fantasi dan male gaze. Ia harus mengelola penampilan, emosi, dan interaksinya sebagai sebuah produk yang harus tetap laku. Ini adalah pekerjaan emosional (emotional labor) dalam skala masif yang tak terlihat namun sangat menguras.
Ini bukan cerita sederhana tentang perempuan pintar yang mengeksploitasi laki-laki bodoh. Ini adalah cerita tentang bagaimana sistem pasar secara cerdas memberikan insentif ekonomi dan sosial yang sangat kuat kepada perempuan untuk berpartisipasi dalam komodifikasi dirinya. Partisipasi ini, pada gilirannya, menjadi bahan bakar bagi mesin ekonomi yang menargetkan laki-laki. Terciptalah sebuah lingkaran setan yang sempurna, saling mengunci dan menguntungkan bagi semua pihak—kecuali bagi kemanusiaan para pelakunya yang perlahan tergerus.

Sang Dalang Sebenarnya: Siapa Pemenang Sejati?
Jika kita mundur sejenak dan melihat keseluruhan panggung, kita akan sadar bahwa dalam drama Patriarki 2.0 ini, baik laki-laki maupun perempuan bukanlah pemenang utamanya. Mereka adalah aktor yang memainkan peran yang telah ditulis untuk mereka. Laki-laki terkunci dalam peran sebagai konsumen yang frustrasi dan kesepian; perempuan terkunci dalam peran sebagai komoditas yang cemas dan selalu waspada.
Pemenang sesungguhnya adalah entitas yang membangun dan memiliki panggungnya: para arsitek ekosistem digital. Raksasa teknologi seperti ByteDance (TikTok), Alphabet (YouTube), Meta (Instagram), dan Tencent (pemilik banyak studio game). Merekalah yang meraup keuntungan triliunan rupiah dari setiap klik, donasi, langganan, dan transaksi mikro yang lahir dari dinamika gender yang mereka fasilitasi, eksploitasi, dan bahkan ciptakan ini. Filsuf Shoshana Zuboff menyebutnya “Kapitalisme Pengawasan”, di mana pengalaman manusia yang paling pribadi diubah menjadi data untuk memprediksi dan memodifikasi perilaku kita demi keuntungan.
Maka dari itu, melanjutkan perdebatan usang tentang “siapa yang lebih tertindas” adalah sebuah kesia-siaan strategis. Itu seperti dua boneka yang berdebat tentang siapa yang talinya ditarik lebih kencang, tanpa pernah menyadari keberadaan sang dalang di atas mereka. Perdebatan itu justru menguntungkan sang dalang, karena membuat para boneka tetap menari sesuai irama.
Baca juga: Kedai Kopi: Dari Markas Revolusi ke Laboratorium Wacana Rakyat
Perjuangan untuk pembebasan sejati di abad ke-21 menuntut kita untuk mengangkat pandangan. Musuh bersama kita bukanlah gender yang lain. Musuh kita adalah sistem ekonomi tak berwajah yang mengubah kerentanan terdalam kita menjadi keuntungan, yang mengubah hasrat menjadi adiksi, dan yang mereduksi manusia menjadi sekadar data dan target pasar.
Pertarungan kita bukan lagi melawan patriarki lama. Pertarungan kita adalah melawan mesin pasar yang telah mengambil alih, menyempurnakan, dan mengotomatisasi sistem tersebut untuk kepentingannya sendiri. Saatnya berhenti saling menyalahkan dan mulai melihat ke atas.
Bagus Budiman, seorang geek teknologi yang justru memilih jalan sunyi sebagai penulis. Sebagai akamsi Maguwoharjo yang setia, ia membedah gejala sosial dengan kacamata orang dalam—setengah serius, setengah bercanda.