Drama ini menawarkan proposisi yang lebih filosofis: di era dunia tanpa batas dan teknologi penerjemahan yang semakin canggih, apakah cinta, sebagai pengalaman emosional paling personal, benar-benar dapat diterjemahkan?
Pada awal tahun 2026, gelombang Hallyu kembali mengukuhkan dominasinya dalam lanskap hiburan global melalui platform streaming Netflix. Salah satu judul yang paling menyedot perhatian adalah Can This Love Be Translated? (I Sarang Tongyeok Doenayo?), sebuah drama romantis yang sejak awal dibebani ekspektasi tinggi. Kombinasi penulis legendaris Hong Sisters, sutradara visioner Yoo Young-eun, serta kembalinya Kim Seon-ho ke genre komedi romantis setelah Hometown Cha-Cha-Cha, menjadikan serial ini sebagai proyek prestisius yang diproyeksikan bukan hanya sebagai tontonan populer, melainkan juga sebagai pernyataan artistik.
Namun, Can This Love Be Translated? bukanlah romansa konvensional tentang dua insan yang jatuh cinta melintasi perbedaan budaya. Drama ini menawarkan proposisi yang lebih filosofis: di era dunia tanpa batas dan teknologi penerjemahan yang semakin canggih, apakah cinta, sebagai pengalaman emosional paling personal, benar-benar dapat diterjemahkan? Pertanyaan inilah yang menjadi benang merah narasi, sekaligus sumber kekuatan dan problematika drama ini.
Hong Sisters, yang selama dua dekade dikenal lewat narasi realisme magis dan fantasi romantis seperti Hotel del Luna dan Alchemy of Souls, melakukan pergeseran signifikan dalam karya ini. Elemen supranatural yang biasanya hadir secara literal kini dimaterialkan dalam bentuk metafora psikologis. Alih-alih hantu atau makhluk mitologis, “entitas asing” dalam cerita ini adalah trauma dan disosiasi mental yang menghantui karakter utamanya. Langkah ini menunjukkan ambisi untuk membumikan gaya khas mereka ke dalam realisme emosional, meski tidak selalu berhasil secara etis maupun naratif.

Pendekatan ini diperkuat oleh visi visual sutradara Yoo Young-eun. Dengan pengambilan gambar di Korea Selatan, Jepang, Kanada, dan Italia, Yoo membangun apa yang dapat disebut sebagai estetika vicarious travel. Lokasi bukan sekadar latar, melainkan cermin kondisi batin karakter. Jepang merepresentasikan nostalgia dan kepolosan awal, Kanada memvisualisasikan isolasi profesional yang dingin, Italia menjadi ruang ledakan emosi dan kebenaran, sementara Korea dan Los Angeles berfungsi sebagai medan rekonsiliasi trauma. Sinematografi yang kaya ini menjadikan serial tersebut hampir menyerupai travelogue emosional, di mana perjalanan geografis berjalan seiring dengan perjalanan batin.
Di pusat narasi berdiri Joo Ho-jin (Kim Seon-ho), seorang penerjemah multibahasa yang hidup dalam disiplin logika dan netralitas profesional. Ho-jin adalah figur stoik, seorang “Thinking type”, yang percaya bahwa tugas penerjemah hanyalah menyampaikan kata, bukan emosi. Kim Seon-ho memainkan karakter ini dengan pendekatan mikro-acting yang nyaris asketis: emosi disampaikan melalui tatapan singkat, ketegangan rahang, atau keheningan yang berkepanjangan. Ketabahan Ho-jin bukanlah kekuatan, melainkan mekanisme pertahanan dari kerentanan.
Berhadapan dengannya adalah Cha Mu-hee (Go Youn-jung), seorang aktris global yang rapuh di balik citra glamor. Mu-hee hidup dalam kecemasan dan sindrom impostor, berkomunikasi secara tidak langsung sebagai bentuk perlindungan diri. Namun kompleksitas karakternya berlipat melalui kehadiran Do Ra-mi, alter ego impulsif dan agresif yang muncul sebagai manifestasi disosiatif dari trauma masa kecil. Go Youn-jung menampilkan dua kepribadian ini dengan perbedaan fisik dan vokal yang jelas, sebuah pencapaian akting yang patut diapresiasi.
Relasi Ho-jin dan Mu-hee dibangun sebagai konflik antara logika dan emosi, antara bahasa literal dan bahasa subteks. Drama ini dengan cerdas menggunakan profesi penerjemahan sebagai metafora utama: bahkan ketika dua orang berbicara bahasa yang sama, kegagalan memahami nuansa emosional dapat menciptakan jarak yang tak terjembatani. Pepatah Italia traduttore, traditore, penerjemah adalah pengkhianat, menjadi kunci pembacaan drama ini. Ho-jin menyadari bahwa dengan menerjemahkan kata-kata cinta orang lain tanpa menyuarakan perasaannya sendiri, ia mengkhianati dirinya sendiri.
Namun di sinilah drama ini mulai memperlihatkan retakan. Representasi Dissociative Identity Disorder (DID) melalui karakter Do Ra-mi menuai kritik tajam. Alih-alih diperlakukan sebagai kondisi psikologis kompleks yang membutuhkan proses pemulihan panjang, DID kerap difungsikan sebagai perangkat plot untuk menciptakan konflik romantis atau elemen komedi gelap. Pergantian kepribadian yang tiba-tiba dan resolusi trauma yang terkesan instan di akhir cerita mereduksi realitas pemulihan kesehatan mental, dan berpotensi mengukuhkan stereotip problematik.
Paruh kedua serial ini juga mengalami disonansi tonal. Ketika narasi beralih dari romansa perjalanan menuju thriller psikologis, keseimbangan antara ringan dan gelap tidak selalu terjaga. Episode-episode pertengahan terasa berlarut-larut, seolah naskah berjuang mempertahankan ketegangan tanpa arah yang jelas. Ambisi Hong Sisters untuk menggabungkan komedi romantis, trauma keluarga, dan kritik profesionalisme modern tampak terlalu besar untuk sepenuhnya terartikulasikan secara kohesif.
Meski demikian, kekuatan estetika Can This Love Be Translated? tidak dapat disangkal. Sinematografi dengan palet warna kontras, penggunaan wide shots di lokasi ikonik, serta desain suara yang subtil menjadikan pengalaman menonton terasa imersif. Musik latar dan OST, dari balada melankolis hingga komposisi eksentrik, berfungsi sebagai lapisan emosional tambahan yang memperdalam pengalaman naratif.

Pada akhirnya, Can This Love Be Translated? adalah sebuah paradoks. Ia adalah masterpiece visual dengan performa akting yang kuat, namun terhambat oleh ambisi naratif yang tidak sepenuhnya matang. Drama ini berhasil sebagai romansa estetis dan eksplorasi metaforis tentang bahasa dan cinta, tetapi goyah ketika mencoba menjadi studi psikologis yang serius.
Bagi penonton yang mengutamakan chemistry, keindahan visual, dan emosi romantis, drama ini menawarkan pengalaman yang memuaskan. Namun bagi mereka yang mengharapkan konsistensi tonal dan representasi kesehatan mental yang realistis, Can This Love Be Translated? mungkin meninggalkan rasa kurang tuntas. Sebuah kisah tentang cinta yang nyaris berhasil diterjemahkan, namun kehilangan makna di beberapa nuansa terpentingnya.